Tentang Nafsu Diri

Sumber Gambar : alif.id

Indra Syarif

Di dalam kitab Tanwirul Qulub karangan Syekh Muhammad Amin Al Kurdi, seorang ulama yang bermazhab Syafi’i dan pengamal Tarekat Naqsyabandiyah menulis tentang nafsu diri. Tegasnya siapa yang mengerti, mengenali, menyadari tentang dirinya yang hina dina, lemah, penuh kekurangan dan fana, pasti ia dapat mengenali, mengerti, dan menyadari terhadap Allah Swt yang memiliki kemuliaan, kekuasaan, dan keabadian. Begitu pula sebaliknya, siapa yang tidak mengerti tentang dirinya, berarti ia lebih mengerti tentang Tuhannya.

Pokok pangkal dari segala macam ketaatan, kesadaran, kasuh sayang dan musyahadah adalah tidak ada kerelaan untuk menerima desakan nafsu. Pada waktu itu tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seseorang dari pada mendidik/meneliti dirinya sendiri. Untuk penelitian itu dilihat dari kesan-kesan yang timbul pada nafsu, dengan melatih diri secara sungguh-sungguh pada tujuh tingkatan nafsu.

  • Nafsu Ammarah.

Nafsu yang berperan memerintah kepada hal-hal yang jelek. Nafsu ini cenderung kepada tabiat badaniah, mendorong untuk berfoya-foya dengan kelezatan duniawi dan kebirahian yang terlarang menurut syariat dan menggiring/menarik-narik hati ke arah kerendahan. Disinilah tempat dari segala macam kejahatan dan sumber segala akhlak yang tercela seperti sifat sombong, tamak, syahwat, kedengkian, kemarahan membabi buta. Dan inilah suatu tingkatan yang umum bagi nafsu yang belum dilatih secara sungguh-sungguh (mujahadah).

  • Nafsu Lawwamah

Nafsu ini mendapat cahaya dengan cahaya hati, maka tunduklah ia kepada kekuatan akal sehat, tetapi kadang-kadang ia membangkang terhadap desakan akal sehat itu, lalu timbul penyesalan dan jiwanya terasa pedih. Nafsu ini adalah sumber dari segala rasa penyesalan.

  • Nafsu Muthma’innah

Nafsu ysng tenteram, Nafsu ini bercahaya dengan cahaya hati hingga terasa kosong dari sifat-sifat yang tercela dan tenang tenteram menuju ke kesempurnaan. Maqamnya adalah permulaan kesempurnaan. Apabila seorang salik (penuntut) meletakkan pendiriannya pada jiwa yang tenteram ini, terhitunglah dia seorang ahli thariqah yang berpindah dari kehidupan warna warni yang tak menentu kepada penghidupan yang tetap pada pendirian. Kawannya adalah mabuk ketuhanan, orang-orang yang yang telah sampai, membangunkannya. Penuh rasa ketergantungan kepada Tuhan yang Maha Tinggi.

  • Nafsu Mulhamah

Jiwa yang mendapat ilham. Allah mengilhamkan kepadanya ilmu pengetahuan, rasa tawadhu (kerendukan hati), qana’ah (kesederhanaan) dan sakhawah (sifat murah hati). Hal itu adalah sumber dari kesabaran/tabah dan kesyukuran.

  • Nafsu Arradhiyyah

Jiwa yang rela. Nafsu ini adalah yang rela (ridha) terhadap Allah (terhadap ketentuan Allah kepada dirinya) sebagaimana yang difirmankan Allah “Wa radhiyallahu ‘anhu” (mereka rela kepada-Nya). Keadaan jiwa/nafsu ini adalah penuh penyerahan kepada Allah Swt dan selalu merasa kelezatan dengan timbulnya “gairah” (kekaguman) karena nyatanya Allah buat dia, sebagai tersebut pada sebuah syair “zidnii bifarthil hubbi tahayyuran warham hasyan ladza hawaaka tasa’ ‘uran” artinya: Ya Tuhan, tambhakan bagiku rasa gairah, karena cintaku padaMu melebihi batas, sayangilah sepenuh panas membara.

  • Nafsu Al Mardhiyyah

Jiwa yang diridhai. Nafsu ini mendapat karomah, ikhlas dan selalu ingat, pada tingkat inilah si Salik meletakkan langkahnya yang pertama untuk makrifat kepada Allah dengan pengenalan yang benar, pada jiwa inilah merasakan tajalli af’al.

  • Nafsu Kamilah

Nafsu yang sempurna. Terjadilah kesempurnaan yang sepenuhnya, tercetak sebagai suatu tabiat yang mendalam, dengan ini meningkat terus pada tingkatan yang lebih tinggi lalu kemudian jiwa kamilah ini mendorong untuk kembali kepada manusia, memberikan petunjuk-petunjuk kepada hamba Allah, maqamnya adalah maqam tajalli asma dan sifat, dan keadaannya adalah baqa billah berjalan dengan Allah, kepada Allah dan jiwa itu kembali dari Allah kepada Allah, tiada ruang dan tempat baginya kecuali Allah, ilmunya berfaedah dari pada Allah, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah syair

Setelah fana fillah, 
jadilah apa yang anda mau,
ilmumu, tiada kebodohan,
laku tingkahmu, tiada dosa.”

(Sumber: Permata yang Indah (Kitab Ad Durrunafis) karya Syekh M. Nafis Bin Idris Al Banjarie. KH. Haderanie HN.)

Tinggalkan komentar