
Pahliyani
Di sebuah perkampungan ayam. Nama kampung ini adalah kampung Milan. Ayam-ayam di sini hidup rukun dan damai. Segala jenis ayam diterima di kampung ini. Kampung ini bisa dibilang ayam-ayamnya hidup dengan kemiskinan. Mereka kesulitan mencari makan. Terkadang ayam-ayam di sini harus pergi ke kampung sebelah bernama kampung Madrid hanya untuk mencari makan.
Terdapat tiga ayam remaja yang sedang makan gorengan di warung, mereka pengangguran, baru lulus sekolah. Mereka adalah Joni, Roni dan Soni. Joni berkata “petok petoook petok petok petokk” yang artinya “Roni, Soni, ikut latihan bola yuk sama bang Yayan, daripada nganggur gada kerjaan, mending olahraga, jaga kesehatan”
Roni “ah males ah Jon, enakan mabuk lem aje kita, bener kan Son” Soni “Setuju” Joni-pun akhirnya memutuskan untuk berlatih sepakbola dengan bang Yayan sendirian dan berharap memiliki teman baru juga saat latihan.
Minggu pagi, saat Roni dan Soni asik tidur di kandang ayam, Roni justru telah bangun subuh sekali untuk melakukan pemanasan sebelum berlatih sepakbola dengan bang Yayan. Joni-pun berangkat sendirian menuju lapangan untuk berlatih. Joni berusaha memperbaiki dirinya yang punya pola hidup buruk, suka mabuk lem, kebanyakan tidur pagi dan keseringan begadang.
Pada hari pertama Joni mengikuti latihan sepakbola, ia langsung jatuh cinta dengan olahraga ini. Ia tak pernah absen berlatih sepakbola setiap harinya. Ia langsung memiliki cita-cita menjadi pemain bola profesional dan berharap bisa membawa nama kampung Milan menjuarai turnamen antar kampung. Ia pun selalu mengikuti arahan bang Yayan, Joni sangat senang punya pelatih sepakbola seperti bang Yayan.
Satu ketika, bang Yayan mengadakan seleksi pemain untuk mengikuti lomba sepakbola di kampung Milan. Ah jelas saja Joni sangat ingin mengikuti lomba tersebut. Ia makin giat lagi berlatih. Pola makan dan pola tidurnya menjadi lebih teratur. Ia sudah tak pernah lagi menyentuh lem untuk mabuk, namun tetap berteman akrab dengan Roni dan Soni. Selama proses seleksi, Joni sangat merasakan perubahan dirinya menjadi lebih baik, ia merasa sepakbola telah mengajarkannya kedisiplinan tinggi.
Joni berkorban setiap harinya berlatih supaya bang Yayan memilihnya untuk mengikuti lomba tersebut. Joni berlatih menendang keras, menyundul bola dengan akurat dan berlari kencang. Joni sangat berharap, ia berdoa setiap hari agar terpilih mengikuti lomba tersebut. Ia tak kenal lelah, berusaha dan berusaha.
Hari pengumuman hasil seleksi pemain yang terpilih mengikuti lomba dari bang Yayan pun tiba. Hari yang sangat ditunggu-tunggu ayam remaja bernama Joni tentunya. Ia sangat yakin akan terpilih. Joni-kan berusaha setip hari, yakin sekali akan lolos. Ia pun pergi ke lapangan dengan semangat untuk mendengarkan nama-nama yang dipilih bang Yayan untuk mengikuti lomba di kampung Milan.
Bang Yayan “baik, saya umukan nama-nama yang akan mengikuti lomba, Madun, Bambang, Budi, Okto dst… selesai, baik yang tidak terpilih, teruslah berlatih” Kalian tahu, Joni tidak terpilih, hatinya hancur. Ia berteriak ke langit, “TIDAK!!!” Joni marah, tapi tak bisa apa-apa. Joni sangat kecewa. “Tuhan tidak adil!!!” kata Joni.
Joni pulang ke rumah dengan tangis di matanya. Ia sangat sakit hati. Sampai-sampai ingin bunuh diri, ia ingin sekali dibawa ke peternakan ayam agar dipotong dan disantap oleh manusia, saking putus asanya. Joni kembali memutuskan untuk kembali ke kehidupan lamanya, mabuk lem, walaupun ternyata ia tidak selera lagi saat mencoba.
Di siang hari, Joni, Roni dan Soni sedang kelaparan. Mereka butuh makan, sudah sejak kemarin mereka belum makan apa-apa. Mereka bertiga-pun memutuskan untuk mencari makan di kampung Madrid. Mereka bertiga langsung pergi bersama, Roni dan Soni sambil menghirup lem, Joni sudah tak selera lagi dengan lem.
Di tengah jalan, mereka bertiga bertemu dua musang yang amat besar, musang itu ternyata preman dari kampung Madrid. Musang itu selalu mengintai ayam-ayam yang ingin ke kampung Madrid untuk disantap. Panik-lah mereka bertiga. Musang itu mendekat dan berkata “cuakh cuakh cuakh” artinya “kalian akan aku makan, menyerahlah”
Joni, Roni dan Soni pun lari, sekencang-kencangnya. Ternyata musang itu larinya sangat kencang. Joni, Roni dan Soni-pun hampir terkejar, dua musang itu semakin mendekat. Sebenarnya Joni bisa berlari jauh meninggalkan dua musang itu, karena Joni telah banyak berlatih lari sebelumnya. Tetapi Joni harus menunggu Roni dan Soni yang lambat, Joni sangat setia kawan.
Joni, Roni dan Soni sangat panik saat lari menghindar dari dua musang itu. Hingga akhirnya, Roni dan Soni tertangkap oleh dua musang itu karena berlari sangat lambat. Roni dan Soni menangis “mamaaaaa!!!” Joni masih aman, sebenarnya Joni bisa saja langsung pergi meninggalkan Roni dan Soni untuk mengamankan diri.
Tetapi Joni malah kembali mendatangi dua musang itu karena kasihan dengan dua temannya. Joni yang melihat batu di depannya-pun langsung menendangnya dengan keras. Ternyata batu tendangan Joni tepat mengenai mata musang yang berusaha memakan Roni. Terbebaslah Roni dari tangkapan musang itu. Musang itu lari terbirit-birit sambil memegang matanya yang terus mengeluarkan darah.
Selanjutnya Joni dan Roni berusaha menyelamatkan Soni dari musang yang satu lagi. Roni bingung harus berbuat apa karena sangat ketakutan. Joni yang sudah dilatih untuk tenang dalam latihan sepakbola akhirnya maju mendatangi musang tersebut. Karena Joni punya tendangan yang sangat keras, Joni-pun sebagai ayam yang suka latihan sepakbola punya lompatan cukup tinggi untuk menendang mata sang musang. Dan terkenalah mata musang itu tendangan ceker Joni, dan tendangan tersebut ternyata membuat sang musang pingsan.
Akhirnya Soni terbebas, mereka semua terbebas. Joni bersyukur mereka semua selamat. Soni dan Roni sangat berterima kasih kepada Joni. Akhirnya Joni tak lagi menyesal pernah berkorban selalu berlatih sepakbola. Ternyata ada manfaatnya juga.
Joni menjadi sangat yakin, usaha tak akan pernah menghianati hasil. Usahanya selama ini berlatih sepakbola sangat berguna untuk menyelamatkan kawan-kawannya. Ia sangat bahagia bisa bermanfaat bagi orang lain. Jika Joni terpilih sebagai pemain yang ikut lomba, mungkin hari itu ia malah sedang ikut turnamen dan tak bisa menyelamatkan dua teman yang amat ia cintai. Ia mulai belajar untuk selalu berprasangka baik terhadap takdir yang menerimanya.
Ia tak lagi kecewa tak terpilih mengikuti lomba, ternyata usahanya selama ini berlatih sepakbola bisa menyelamatkan dirinya dan kawan-kawannya dari bencana. Joni-pun kembali ikut berlatih sepakbola dengan bang Yayan, namun kali ini Roni dan Soni juga ikut. Mereka bertiga pun kini punya pola hidup yang baik.
Joni kembali berusaha berlatih keras dan terus berdoa untuk menjadi pemain profesional. Ia tak lagi pusing tentang masa depannya. Ia malah berfikir kalau di masa depan ia tak menjadi pemain sepakbola profesional, ia tak akan menyesal. Karena semua usaha pasti terbayarkan, walaupun seringkali terbayarnya lewat rencana Tuhan yang tak kita duga-duga. Joni berfikir, yang kita anggap buruk belum tentu buruk di mata Tuhan. Terus sajalah berusaha dan berdoa. Ayam bernama Joni-pun akhirnya menjadi ayam yang lebih baik lagi dari sebelumnya karena sepakbola.
