Pahliyani
Di warung ini sangat ramai mas-mas dan bapak-bapak nongkrong. Pemilik warung ini selalu mengenakan baju batik oren dan celana jeans. Terkadang ia juga menggunakan kopiah hitam sambil melayani pelanggan di warungnya. Warung ini jarang sekali sepi, akibat sang pemilik warung yang ramah dan mudah bergaul dengan masyarakat sekitar.
Pelanggan di warung ini selalu request diputarkan lagu Didi Kempot dan lagu dangdut Indonesia. Pelanggan sangat nyaman ngopi, makan gorengan dan bermain domino disini. Warung ini sembilan puluh persen dihuni oleh pria. Wajar jika agak ribut. Maklum, tertawa pria dewasa sangat keras.
Setiap sore, seorang gadis bernama Fatma selalu melewati warung ramai tersebut dengan berjalan kaki, untuk pulang ke rumahnya. Fatma setiap hari belajar dance Korea, tempat ia berlatih hanya berada di depan gang. Oh ya, Fatma sangat tergila-gila dengan artis K-Pop. Hingga ia mengikuti gaya hidup artis K-Pop tersebut. Dari ujung kepala hingga kaki, busananya Korea banget.
Rumah Fatma dan warung ramai tersebut berdekatan, yah tetangga gitu. Saat Fatma melewati warung tersebut, Fatma selalu disapa oleh om-om dan bapak-bapak di warung itu. Sebagian pria lainnnya hanya senyum terhadap Fatma. Fatma sebenarnya orang baru di desa ini, ia pindahan dari kota.
Fatma sangat kesal dengan sikap om-om yang selalu menyapanya dan melihatinya. Fatma tak suka mereka menggoda. Yah mau bagaimana lagi, untuk pulang ke rumah hanya itu jalan satu-satunya bagi Fatma. Fatma cuek saja setiap kali disapa oleh om-om di warung tersebut. Bahkan wajahnya terkadang sangat ketus.
Begitu terus setiap hari. Fatma cuek saja. Walaupun Fatma telah tiga bulan tinggal di desa ini. Ia belum punya teman. Ia merasa tak perlu berkawan dengan orang kampung, pendidikannya rendah pula. Ia merasa nyaman hidup sendiri, di rumah saja, dengan wifi kencang di rumahnya, menonton drakor setiap hari.
Sampai satu ketika, Fatma harus mengikuti lomba dance yang jaraknya agak jauh, harus menggunakan kendaraan bermotor. Saat menuju tempat lomba tersebut, motornya Fatma mogok tepat di depan warung ramai tersebut. Fatma panik, mencoba kick starter ternyata tidak bisa juga. Ah Fatma sangat kesal. “Sial sekali aku, kenapa motor ini mogok tepat di depan warung om-om genit sih”
Salah satu om-om di warung tersebut menawarkan bantuan “Ada yang bisa dibantu neng?”, “Tidak usah, saya bisa menyelesaikan ini” Fatma menganggap tawaran tersebut pasti modus laki-laki.
Setelah beberapa menit Fatma gagal menghidupkan motornya, om-om tersebut langsung datang untuk mengecek kondisi motornya. Dan sedikit sentuhan, langsung berhasil hidup. Fatma berterima kasih dan ingin memberikan sedikit uang untuk orang telah membantunya. Fatma kaget, uang itu ditolak. Dalam hati Fatma “Baik juga om itu, walaupun hidup susah, masih suka membantu tanpa pamrih”
Di jalan Fatma berucap dalam hati “Ternyata masyarakat di sini sangat menunjukkan jati diri bangsa yang sebenarnya. Aku pikir masyarakat Indonesia sudah tak bermoral, apalagi di kampung yang tak punya pendidikan tinggi. Aku telah salah menilai, mereka menyapa bukan untuk menggoda tapi bentuk keramahan mereka terhadap sesama manusia, terutama pendatang. Mereka selalu tertawa bahagia walau tak punya banyak harta, kebahagiaan ternyata sangat sederhana bagi mereka”
