PUJIAN

Indra Syarif

Orang yang memuliakan (menghormatimu), sebenarnya dia itu hanya menghormati keindahan tutup Allah yang ada padamu. (Syekh Ibnu Atha’illah, Telaga Makrifat,hal 238).

Betapa indahnya hari-hari kita menikmati senandung pujian dari orang lain. Kemanapun kaki berpijak maka di situlah diri mengharap pujian, lihatlah betapa berbunga-bunga hati diterpa pujian dari sang kekasih, betapa susahnya mata tertutup di malam hari membayangkan diri menjadi bintang di antara banyak orang, prestasi yang menjadi ambisi demi sebuah pujian, menyampaikan nash-nash agama demi pujian, menulis sebuah nasehat lalu dibaca oleh orang banyak demi pujian, shaleh demi pujian, dan di manapun keberadaan disertai seluruh keadaan kita yang tiap saat merindu pujian.

Syekh Ibnu Atha’illah memandangnya sebagai pengaruh dari hawa nafsu. Hawa nafsu itu suka sekali dipuji dan disanjung-sanjung. Maka kembali tentang cara pandang, cara pandang orang-orang yang menggunakan mata hati tidak akan pernah terlena dengan pujian. Segala kemuliaan dan kehebatan apapun bentuknya disadari sesungguhnya bukan untuk dirinya. Pujian itu hadir disebabkan oleh tutup keindahan Allah yang melekat padanya.

Segala pujian yang terlontar dari orang lain hakikatnya tertuju kepada Allah. Bagi jiwa-jiwa makrifat kesadarannya tentang diri hanyalah makhluk yang eksintensinya hina, sekalipun pada sisi lain adalah makhluk termulia di antara seluruh makhluk. Namun jika disandingkan dengan Allah Swt maka apalah arti diri ini. Ditampakkan tidak akan bisa benar-benar tampak, disembunyikan memang aslinya berlindung. Karena yang ada, yang tampak dan yang jelas hanyalah Allah Swt, asal mula dan tujuan akhir segala eksistensi.

Sampailah pada sebuah titik kedewasaan spritual yang menyadarkan bahwa kelebihan yang nampak pun dikarenakan ditutupnya aib diri ini oleh Allah Swt. Maka sudahlah, keterpesonaan diri pada pujian segera harus diatasi dengan ketakjuban dan keinsyafan pada-Nya saja. Bahwa alamat segala pujian adalah Allah swt. Bukankah di setiap kita merasa mendapat tambahan nikmat kita melafadzkan kalimat Tahmid, Alhamdulillah : Segala Puji Bagi Allah.” Wallahu Alam.

Tinggalkan komentar