Mata Hati dan Pemandangan Duniawi

Indra Syarif

Jika mengejar sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah engkau lakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi kewajibanmu engkau abaikan. Inilah bukti bahwa mata hatimu telah buta. (Syekh Ibnu Atha’illah, Telaga Ma’rifat, hal 22)

Cara pandang yang terbaik dalam hidup menurut Syekh Ibnu Atha’illah bersumber dari mata hati. Segala rahasia dan hikmah akan dimunculkan terang benderang. Segala pembendaharaan akan terlihat jelas tidak sebatas dzahirnya saja tetapi sampai pada aspek batinnya. Maka seseorang yang sudah tajam mata hatinya tidak akan mudah terpesona oleh pemandangan duniawi yang bersifat dzahir itu. Tetapi setiap pandangannya yang tertuju pada apapun, yang disaksikan adalah makna terdalam (hakikat) dari sesuatu itu, dan yang kemudian dirasakan adalah kehadiran Allah Swt. Sudah lazim kita pahami dalam kajian tasawuf bahwa segala pembendaharaan adalah manifestasi-Nya.

Adalah penuturan Syekh Ibnu Atha’illah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Memiliki segalanya. Disertai dengan jaminan kebutuhan hidup dan rezeki seluruh makhluk-Nya. Kesadaran seperti itu membawa pada ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. Ikhtiar atau usaha kita menjadi bermakna spritual, karena dilakukan atas dasar ketakwaan, keridhaan, dan akhlak yang mulia. Spirit kerja yang dibawanya adalah Taqarrub ilallah. Maka pada ujungnya bernilai ibadah. Totalitas seperti itulah yang harus dimilki seorang hamba sehingga dalam benaknya berikhtiar tidak membuatnya berpaling dari kewajiban-kewajibannya.

Sementara bagi sebagian dari kita, bisa saja belum memosisikan diri selayaknya seperti uraian sebelumnya. Ikhtiar atau usaha kita masih menjadi tumpuan semata kita. Sehingga melabrak  nilai-nilai kehambaan kita sendiri. Benar bahwa kesuksesan profesi atau pekerjaan bisa dengan mudah diraih plus penghasilan yang banyak, tetapi justru menjadi hijab antara diri dengan Allah Swt Sang Maha Memiliki segalanya itu. Karena hanya bertumpu pada ikhtiar sendiri, hal itu bahkan akhirnya melabrak nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana sering terlihatnya berbagai perilaku yang melanggar norma sosial (hablum minannas) serta kelestarian alam (hablum minal alam).

Hubungannya dengan dimensi kehidupan dunia dan akhirat. Sebuah nasehat bahwa jangan korbankan kehidupan akhirat hanya karena ambisi duniawi. Seringkali ambisi memiliki tanpa batas membuat seseorang lupa tujuan sebenarnya dari kehadirannya di dunia serta hakikat amanah kepemilikan yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya. Kepastian Allah Swt akan jaminan hidup makhluk-Nya jangan sampai luput dari kesadaran diri, serta bersungguh-sungguh dalam ikhtiar adalah keniscayaan sebagai hamba.

Buta mata hati terjadi karena pesona pemandangan duniawi. Diri bertamasya sepuas-puasnya di wisata kebendaan, semuanya itu disangkanya jalan meraih bahagia, namun semuanya ketidakmungkinan karena semuanya itu nisbi, yang akan membuatnya tidak akan sampai pada perjalanan ini. Perkenankanlah diri kita selalu tidak hanya sebatas rutin melafadzkan doa ini, tetapi membuka mata hati, menjadi renung hayat akan ketidakmampuan diri menghadirkan kebaikan di dunia dan akhirat selain pertolongan dari-Nya. “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar.” Wallahu A’lam.

Tinggalkan komentar